Jumat, 30 Mei 2008
8 syarat menjadi wartawan
NIM : 056484024
JURUSAN : PENKESREK / IKOR
8 SYARAT MENJADI WARTAWAN
Harus sarjana jurnalistik? Bukan. Justru hanya segelintir media yang mensyaratkan gelar sarjana jurnalistik saat membuka lowongan kerja bagi wartawan baru. Tahu etika, berwawasan luas, tidak penakut, menguasai bahasa, bukan “pelacur” idealisme. Oleh Jarar Siahaan; Blog Berita; Balige Bahkan media sebesar suratkabar Kompas, majalah Tempo, atau stasiun Metro TV tidak pernah menyebutkan syarat sarjana jurnalistik; yang penting sarjana, biasanya S1, dari fakultas apapun. Sebagian besar wartawan media, mulai tingkat reporter hingga redaktur, bukan sarjana jurnalistik. Titel mereka dari berbagai disiplin ilmu, mulai sarjana ekonomi hingga sarjana teknik. Aku juga sering membaca, antara lain di majalah Pantau — media yang khusus mengulas dunia kewartawanan, yang sayangnya sudah berhenti terbit — bahwa media di negara-negara barat justru tidak terlalu peduli dengan embel-embel sarjana. Media raksasa multi-format, National Geographic [NG], berani membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk satu liputan mendalam yang dikerjakan kontributor — wartawan freelance yang tidak terikat sama sekali dengan NG — tanpa mensyaratkan kontributor harus sarjana; yang penting adalah karyanya, bukan deretan gelar akademisnya.Berikut adalah delapan syarat menjadi wartawan. Nomor 1 sampai 6 kucarikan dari buku Menggebrak dunia wartawan [1993, Kurniawan Junaedhie] yang kutambah dengan pengalamanku, sedangkan dua poin terakhir, 7 dan 8, adalah murni pendapatku pribadi.
1. Tidak alergi terhadap teknologi. Wartawan zaman sekarang harus fasih memakai email untuk mengirim berita, alat perekam suara, kamera foto atau video, dan mencari referensi lewat Internet.
2. Punya naluri-ingin-tahu yang tinggi dan bukan penakut. Lebih bagus lagi kalau bernaluri sebagai detektif. Wartawan sering diancam karena tulisannya, tapi jangan lantas berhenti menulis.
3. Menguasai bahasa. Tentu saja yang terutama adalah bahasa Indonesia. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mampu menulis secara jelas, melainkan berputar-putar dengan “bahasa langit”, bahkan beberapa di antaranya adalah “wartawan senior” yang sudah 20-30 tahun bekerja.
4. Santun dan tahu etika. Aku kerap melihat wartawan yang memaksa masuk ke ruangan pejabat dan langsung duduk padahal si pejabat sebenarnya belum bersedia menerima karena masih ada tamu atau pekerjaannya yang lain. Ada juga wartawan yang mewawancarai narasumber dengan bahasa memaksa, mendesak bagai polisi. Boleh saja meliput peristiwa seperti demo atau lomba tarik tambang dengan memakai celana pendek, tapi jangan berkaus oblong saat meliput sidang pengadilan atau masuk ke kamar kerja gubernur.
5. Disiplin pada waktu. Wartawan tidak boleh menulis berdasarkan mood seperti halnya seniman, karena redaksi dibatasi deadline untuk menerbitkan berita. Sering wartawan-magang gagal diterima karena selalu telat menyetor berita. Bila kau tergantung pada mood, maka pilihlah menjadi wartawan lepas atau bloger.
6. Berwawasan luas. Untuk hal ini, sejak dulu aku sepakat bahwa penulis yang baik harus lebih dulu menjadi pembaca yang baik. Banyak wartawan daerah yang tidak mau membaca media nasional, buku-buku populer, atau mengorek isi Internet; mereka hanya membaca korannya sendiri, itupun cuma untuk melihat “beritaku terbit nggak, nih.”
7. Jujur dan independen. Memangnya ada wartawan yang tidak jujur? Banyak, terutama di daerah. Berita bisa direkayasa sesuai pesanan narasumber. Seratusan orang demo bisa muncul di koran sebagai seribuan orang. Bupati diadukan korupsi, berita yang muncul menjadi “Ada LSM yang ingin membuat rusuh Tobasa.” Memangnya ada wartawan tidak independen? Ini paling banyak, bahkan di Jakarta sekalipun. Harian terbesar Amerika, Washington Post, membuat syarat bagi wartawannya: “Lepaskan dulu jabatanmu di parpol, baru bergabung dengan koran ini.” Di Balige, kabupaten lain, Medan, provinsi lain, kujamin banyak wartawan yang aktif di partai politik.
8. Memperlakukan profesi wartawan bukan semata-mata demi uang. Profesi kuli-tinta sering disandingkan dengan seniman. Ia adalah sosok idealis, yang bekerja tidak melulu karena gaji tinggi. Pengacara bisa saja menolak bekerja kalau kliennya tidak mampu membayar tarif sekian rupiah. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mau menulis karena narasumbernya tidak memberikan uang seperti diminta si wartawan. “Dia minta dua juta supaya beritanya terbit di halaman satu. Aku tidak punya uang sebanyak itu, ya sudah, mending kukasih Rp100 ribu ke wartawan mingguan, terbit di halaman dalam pun tidak apa-apa,” kata seorang anggota DPRD padaku suatu ketika. Jangan kaget bila pejabat dan pengusaha di daerah sering berkata, “Lae, bayar berapa untuk menerbitkan berita jadi headline?” Dan jangan kaget pula bahwa pertanyaan itu justru ditujukan pada wartawan koran-koran harian beroplah besar.
Dari 12 syarat yang tercantum pada buku Kurniawan Junaedhie, tidak ada satu pun menyinggung titel kesarjanaan. Pada 50 lebih buku jurnalisme yang pernah kubaca, titel sarjana jurnalistik juga tidak pernah disebut sebagai salah satu syarat menjadi wartawan. Mungkin bagi orang awam hal ini akan terdengar ganjil. Tapi begitulah yang terjadi di media pers: Yang dicari adalah orang yang mampu menulis, bukan orang yang pernah kuliah jurnalisme.
Jadi, kalau kau adalah seorang sarjana yang baru tamat tapi bukan dari program jurnalistik, kau tetap punya peluang besar jadi wartawan. Lihatlah lowongan di media-media lokal maupun nasional. Bahkan bila kau bukan sarjana, kau pun tetap bisa jadi wartawan, walaupun peluangnya lebih kecil. Pengalaman pribadiku di bawah ini mungkin bisa memberimu semangat dan inspirasi.
Pada 1999 aku memasukkan lamaran ke harian Medan Ekspres — kini bernama Sumut Pos — koran milik Jawa Pos. Aku tahu koran itu mensyaratkan sarjana, tapi aku nekat. Sekretaris redaksi yang menerima berkas lamaranku berkata, “Nanti kusampaikan, bang, tapi sebenarnya harus sarjana, lho.” Kujawab: “Aku tahu. Tapi sampaikan saja dulu sama Pemred.” Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan pemimpin redaksinya, Abdul Haris Nasution — kalau aku tidak lupa namanya — yang pernah bekerja di majalah Tempo. Sore itu, di kantor redaksi, dia membuka-buka berkas lamaranku. Dia memelototi sejumlah contoh beritaku yang pernah terbit di koran-koran tempatku bekerja sejak 1995. “Ini foto-foto jepretanmu sendiri?” katanya, menunjuk beberapa gambar bentrok Brimob dengan warga Balige yang demo menolak PT Indorayon; antara lain foto seorang Brimob sedang mengarahkan senjata pada seorang warga yang berlindung di balik papan di depan kedainya, dan foto warga lain yang jemarinya putus ditembak Brimob.“Benar, fotoku sendiri,” jawabku. “Kami pakai dulu foto ini, ya,” katanya lagi, lalu memanggil tiga orang redaktur, yaitu Syaiful Ishak [kini petinggi di kantor Graha Pena Medan], Yulhasni, dan satu lagi aku tidak ingat. “Bagaimana anak ini menurut kalian? Aku suka, aku ingin dia bekerja di koran kita. Tapi dia bukan sarjana,” kata Nasution. Akhirnya aku diterima, dengan syarat: Aku harus mengirim minimal tiga berita setiap hari dari Balige, dan beritaku harus layak jadi berita utama di halaman daerah, bahkan aku mesti berusaha menembus halaman satu. Enam bulan masa magang berlalu, aku lolos. Bahkan tidak lama kemudian, pemred berikutnya, Choking Susilo Shakeh, mempromosikanku menjadi redaktur. Terkadang, pada minggu-minggu pertama, aku merasa minder dan “tidak nyaman” di kantor karena kawan-kawanku redaktur adalah sarjana. Tapi mereka teman-teman yang baik dan peduli. Singkat cerita, kemudian aku harus mengundurkan diri dari jabatan redaktur karena pindah domisili ke Palembang. Setelah itu aku bekerja di beberapa koran, majalah, dan menjadi stringer untuk Biro Foto Antara, sebelum mengundurkan diri dari koran terakhir, Harian Global, lalu pada Maret 2007 menjadi penulis web mengelola Blog Berita ini.
“Tunjukkan pada dunia APA yang bisa kaulakukan, bukan SIAPA kau.”
sumber www.blogberita.net.
Senin, 21 April 2008
Minggu, 20 April 2008
Pakaian renang, gimnas tak jadi isu di Malaysia?
NAMA:AGHUS SIFAQ
NIM : 056484025
EMAIL: sifa_q@yahoo.com
| Pakaian renang, gimnas tak jadi isu di Malaysia? |
| Herman Samsudeen |
| Dewan Pemuda PAS Wilayah Persekutuan mengecam kenyataan yang dibuat oleh Menteri Belia dan Sukan, Dato' Azalina Othman Said berhubung dengan isu pemakaian tudung dan pakaian menutup aurat oleh para atlit negara. Khaleejtimes online memetik laporan berita yang bersumberkan wawancara wartawan agensi berita antarabangsa, Reuters bersama Azalina pada Selasa baru-baru ini berhubung isu ini dan menyebarkannya melalui laman web mereka. Azalina ditanya berhubung dengan kebebasan pemakaian atlit yang beragama Islam dalam sukan-sukan seperti gimnastik dan acara renang atau kolam air. Pada pandangan beliau pemakaian pakaian renang atau baju gimnas yang ketat dan menampakkan peha atlit wanita Islam tidak menjadi isu di kalangan rakyat Setiap atlit yang beragama Islam bebas untuk memakai pakaian yang dipakai oleh mereka yang bukan Islam untuk bersukan. Azalina yang juga ahli dan penyokong kuat Sisters in Islam memperjuangkan hak dan kebebasan wanita Islam untuk memilih jalan hidup dan aktiviti harian khususnya dalam aspek kesukanan. Beliau juga bangga untuk menjadi contoh sebagai pemegang tali pinggang hitam dalam sukan Tae Kwan do yang tidak memakai tudung dan bagi beliau wanita Islam yang aktif bersukan dinegara ini khususnya mereka yang bertanding untuk mengharumkan negara tidak diwajibkan memakai tudung sebagai mencontohi dirinya. Kenyataan ikhlas Azalina ini telah menelanjangkan idealisma Islam Hadhari yang sebenarnya. Dan kita melihat bahawa aspek sukan yang dibawa oleh Azalina ini benar-benar menyimpang dari Islam dan menyebabkan wanita Islam dipandang sama sahaja dengan mereka yang bukan Islam. Pemuda PAS Wilayah mendesak agar Azalina menarik balik kenyataan beliau dan berusaha memperbaiki imej atlit-atlit Islam dinegara ini. Kita amat malu untuk mempunyai seorang Menteri yang lemah akidah seperti beliau dan sanggup mempermainkan hukum Allah demi survival Hak Asasi yang tidak jelas ini. Kejayaan Ruqaya Al Ghasara dari Perkara ini harus diteliti dan tidak dikesampingkan oleh Azalina. sebagai pemimpin beliau harus memikirkan yang terbaik untuk rakyat dan atlit wanita Islam dan tidak memperlekehkan apa yang disuruh oleh Allah sebegini. Pak Lah harus mengesa Azalina untuk bertaubat dan segera memakai tudung. Imej pemimpin atlit Melayu Islam harus ditonjolkan dengan bijak kerana Islam tidak pernah menengelamkan imej dan keupayaan mana-mana umatnya dan telah banyak bukti yang kita telah lihat selama ini. · Herman Samsudeen ialah Ketua Penerangan Dewan Pemuda PAS Wilayah Persekutuan |
Komentar
Dengan membaca tulisan di atas saya berpendapat, jika atlet renang yang beragama islam boleh memakai pakaian renang yang minim atau pres bodi. tapi lebih baiknya kalau waktu latihan di bedakan antara laki-laki dan perempuan dan waktu perlombaan juga di bedakan tempat dan waktunya selain itu pelatihnya juga untuk pelatih laki-laki juga dari laki-laki, untuk pelatih perempuan juga dari perempuan. Terima kasih.
KEMISKINAN dan GIZI BURUK, APA JADINYA GENERASI BANGSA INDONESIA
Nama : Arik Puji U. Tugas Jurnalistik O.R
No.Reg : 056 484 015
Jurusan : Penkesrek / IKOR.
KEMISKINAN dan GIZI BURUK, APA JADINYA GENERASI BANGSA INDONESIA
Gizi buruk mulai lagi menghiasi negara kita lagi, kata orang negara yang “gemah ripah loh djinawi”. Miris…!mendengar tentang gizi buruk, bagaimana tidak….! Ditengah – tengah berseliwernya mobil – mobil mewah dan banyaknya mal – mal yang berdiri tegak di kota – kota besar, pembahasan APBN dan APBD yang milyaran bahkan bisa triliunan rupiah, anggota DPR yang ingin kenaikan gaji dan kunjungan ke luar negeri yang menghabiskan dana juta an rupiah tapi tak ada hasilnya atau apalah...!. Cerita koruptor yang juga milyaran rupiah, sejumlah anak dibawah umur 5 tahun menderita kekurangan gizi…Miris telinga ini mendengarnya.
Jumlah mereka jauh dibawah jumlah orang kaya di indonesia. Sederhana saja penyebab terjadinya gizi buruk. Asupan kalori dan protein tidaklah cukup bila dibandingkan dengan kebutuhan dalam waktu yang relatif lama. Kekurangan sehari, seminggi dan sebulan tidak menyebabkan gizi buruk. Jadi kenapa lambat diketahui?siapa yang harus disalahkan….!Presiden..!Wakil rakyat..!atau Rakyat..!
Pada dasarnya karena kemiskinan, yaitu kemiskinan materi dan kemiskinan informasi. Keduanya menyebabkan pilihan dan jumlah bahan makanan yang dibeli oleh sebuah keluarga lebih rendah daripada kebutuhan gizi anggota keluarga. Memang persoalan utama dari sebagian besar keluarga dengan balita gizi buruk adalah miskin materi.
Secara sederhana, fenomena ini memang mungkin juga dapat menjelaskan mengapa kondisi kemiskinan di Indonesia dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan secara signifikan. Sekalipun diakui beberapa kalangan seperti halnya pemerintah bahwa kemiskinan dan pengangguran mengalami penurunan, dalam kenyataannya kita masih melihat penderitaan masyarakat akibat dari kemiskinan yang sangat memprihatinkan dan berpengaruh pada kebutuhan bahan makanan yang menyebabkan gizi buruk pada generasi bangsa ini. Pendek kata, masalah dibiarkan muncul dulu, baru setelah itu ditangani. Sama halnya masalah kemiskinan dan gizi buruk dibiarkan muncul dulu, baru selanjutnya ditangani dengan berbagai progran pelayanan sosial.
Kenyataannya, Indonesia memang bukan negara kesejahteraan universal seperti halnya negara – negara maju. Namun, bila pelayanan sosial dengan model yang sama terus diterapkan, maka tidak banyak mengubah peta kemiskinan di Indonesia. Jika bantuan / pelayanan yang diberikan pemerintah tidak sampai ke tangan orang yang benar – benar membutuhkan , sama halnya juga Bohong…!.kemiskinan justru rentan dengan aroma politik, karna hanya dimanfaatkan segelintir elite olitik dan kalangan tertentu.
Selama ini kita didominasi oleh suatu upaya untuk menangani kemiskinan, namun jarang kita berfikir bagaimana membuat orang tidak jatuh miskin. Jadi intinya adalah bagaimana mencegah supaya seseoarang tidak menjadi miskin.
Mungkin upaya ini kurang terpikirkan. Namun, bayangkanlah jika kita kesulitan ekonomi karena tidak stabilnya harga – harga bahan pokok seperti sekarang ini dapat melahirkan orang – orang miskin baru dan berpengaruh meningkatya gizi buruk pada balita, anak – anak generasi bangsa ini…orang berkata bahwa negara kita kaya akan sumber alam nya, tapi apa kata dunia…!jika kita rakyatnya sendiri banyak yang mengalami kemiskinan dan kekuranga gizi..
Kurang Waspada, Olahraga Bikin Cedera
Kurang Waspada, Olahraga Bikin Cedera
via Ch1ples & Irinez by ch1ples on 3/14/08
Kurang Waspada, Olahraga Bikin Cedera Tak ada yang menyangkal jika olahraga baik untuk kebugaran tubuh dan melindungi kita dari berbagai penyakit. Namun, berolahraga secara berlebihan dan mengabaikan aturan berolahraga yang benar, malah mendatangkan cedera dan membahayakan diri sendiri. Ada beberapa hal yang menyebabkan cedera akibat aktivitas olahraga yang salah. Menurut Wijanarko Adi Mulya, pengurus PBSI [...]
By Rizky
RENANG, OLAHRAGA TERBAIK IBU HAMIL
Artikel oleh Resti Nirmalasari
RENANG, OLAHRAGA TERBAIK IBU HAMIL
Ternyata ibu tak perlu jago renang. Baca alasannya.
| Lo, kok, perut sedang gendut malah disuruh renang? Justru itu, perubahan fisik karena kehamilan harus dibarengi dengan olahraga. Bayangkan, penambahan bobot dan perubahan postur ibu pasti menambah beban sendi dan tulang, terutama lutut. Ibu jadi lebih cepat capek, tak lincah, dan kerap sesak napas karena rongga dadanya terdesak janin. Karena kondisi-kondisi itulah ibu hamil butuh berolahraga. Selain untuk melenturkan otot, olahraga juga baik untuk melatih napas agar tidak mudah lelah dan sukses mengejan kala bersalin. Namun bukan sembarang olahraga karena ada syaratnya: * Harus dapat mengurangi beban tubuh. * Harus dapat melatih paru-paru dan jantung karena kedua organ tersebut mendapatkan beban lebih berat daripada sebelumnya. * Jangan sampai meningkatkan suhu tubuh secara berlebihan. Karena peningkatan suhu tubuh memperbesar risiko teratogenik atau kecacatan. Dengan syarat seperti itu, renang adalah olahraga yang paling pas untuk ibu hamil. Kalau enggak bisa berenang? Tak perlu khawatir, definisi renang di sini enggak harus melesat di air dengan gaya bebas, katak, punggung, apalagi kupu-kupu. Berjalan kaki di dalam air mengelilingi kolam sebatas dada, juga sudah termasuk "renang". Jauh lebih baik, jika ibu hamil melakukan aquarobik (senam aerobik di dalam air). MENGAPA RENANG? Mengapa renang yang terbaik, berikut alasan yang dilontarkan Dr. Michael Triangto, SpKO: * Saat berada di air, tubuh ibu akan ditopang oleh air yang memiliki daya dorong ke atas. Beban tubuh saat berada di dalam air jauh lebih ringan daripada di darat. Lantaran itu, saat melakukan olahraga di dalam air, risiko cedera tulang, sendi dan otot jauh berkurang. * Renang/olahraga di dalam air mampu melatih paru-paru dan jantung. Manfaat ini sama dengan berolahraga aerobik, berlari, atau berjalan. * Berolahraga di darat bisa membuat panas tubuh melonjak, sedangkan berenang tidak karena dilakukan di dalam air. Suhu tubuh ibu hamil akan tetap terjaga kestabilannya. * Saat melahirkan, ibu akan mengeluarkan bayinya lewat jalan lahir yang sangat sempit. Namun berkat kuasa Tuhan, jaringan ikat pada sendi-sendi panggul saat ibu hamil menjadi lebih "elastis" karena itulah bayi bisa keluar dengan baik. Namun akibat perubahan tersebut, stabilitas sendi-sendi panggul ibu hamil menjadi berkurang dan memungkinkan terjadinya cedera. Kegiatan fisik jadi terbatas, apalagi untuk berolahraga seperti aerobik. Namun, batasan-batasan itu bisa disiasati dengan berenang. GAYANYA? Semua gaya renang boleh dilakukan ibu hamil. Namun yang terbaik, menurut Michael, ibu mengombinasikan gaya bebas, dada, dan punggung. Ketiga gaya ini selain melatih jantung dan paru-paru juga melatih bagian tubuh yang berbeda-beda. Gaya bebas melatih bahu. Gaya dada/katak melatih kelenturan dan kekuatan otot panggul hingga kaki. Gaya punggung menstimulasi daerah lengan, punggung, dan kaki. Namun gaya kupu-kupu sebaiknya tidak dilakukan karena ibu hamil dengan perut yang besar akan sulit melakukannya. Renang boleh dilakukan kapan saja. "Pada usia kehamilan berapa pun olahraga renang bisa dilakukan. Semua berpulang pada kesanggupan ibu. Jika ibu masih sanggup melakukannya di usia kehamilan 9 bulan, kenapa tidak? Malah, orang-orang Rusia hingga kini banyak yang melakukan persalinan di kolam." Sebagai patokan, lakukan 3 sampai 5 kali dalam seminggu, masing-masing selama 30 menit. Ibu akan bugar, sehat, relaks serta jauh dari stres! |
